Hadirkan Kesejukan dan Keindahan Ruangan dengan Aglonema Red Sumatera

Salah satu tanaman hias yang saat ini masih menjadi yang nomor satu adalah aglonema atau si ratu daun.  Aglonema memang sering disebut si ratu daun karena memang keindahan tanaman hias ini ada pada bentuk dan warna dari daunnya. Bahkan harga dari aglonema ini juga ditentukan oleh jumlah daunnya.

Ada banyak jenis aglonema dengan pesona keindahan daunnya masing masing. Beberapa diantaranya adalah red sumatra, red stardust, red kochin, dud anjamani, lipstik, hot lady, heng heng, legacy, butterfly.

Pada postingan ini akan dibahas salah satu jenis aglonema, yakni aglonema red sumatera. Jenis ini sering disebut dengan pride of sumatera. Tanaman hias jenis aglonema ini sangat mempesona, warna merah, pink dan hijaunya. Sebuah tanaman hias yang pantas hadir dalam ruang rumah Anda.

Dikutip dari ornamentalplaninfo.blogspot.co.id, lahirnya pride of sumatera menjadi dalam dunia aglaonema hibrida. Istilah aglaonema hibrida untuk membedakan dengan aglaonema spesies yang jumlahnya mencapai 30 jenis.

Pride of sumatera sebetulnya bukan aglaonema hibrida pertama yang dilahirkan dari persilangan. Pada periode 1980-an, yang banyak dihasilkan adalah yang tipe daun hijau.

Pewaris warna merah adalah induk jantan Aglaonema rotundum. Greg Hambali memperolehnya dari Aryono, eksportir tanaman hias di Jakarta. Rotundum yang asli Sumatera bagian utara seperti Bukitlawang dan Aceh berdaun hijau tua. Warna merah darah hanya di permukaan bawah daun. Spesies yang sama sebetulnya ada di tangan penangkar Thailand sejak 1980.

Nurseri Aditya milik Aryono—rutin mengirimkan Aglaonema rotundum ke Bangkok. Tak lama berselang Greg juga mendapat 2 Aglaonema commutatum setinggi 20 cm dari Fajar Martha. Fajar pada 1983 dikenal sebagi penyilang lili. Ia membeli beberapa biji A commutatum dari Dowseeds di Singapura. Produsen benih itu mengumpulkan biji sri rejeki dari Mindanao dan Luzon—keduanya di Filipina selatan. Aglaonema commutatum sebetulnya juga terdapat di Palu, Sulawesi Tengah dan Gorontalo.

Sayang, tangkai Aglaonema commutatum domestik terlampau panjang dan corak daun samar-samar menghilang. Merah muda yang semula menghiasi tangkai memudar. Kemolekan Aglaonema commutatum milik kita terkikis. Sudah begitu anakannya berkurang. Ini bukan fitnah! Jeleknya performa itu akibat pergaulan bebas dengan Aglaonema simplex yang berdaun hijau polos dan enggan beranak. Lalat menjadi mak comblang perkawinan mereka. Padahal bunga aglaonema harum karena mengandung amil asetat.

Ia tahan di ruangan berpendingin, cahaya redup, dan kelembapan rendah. Ketimbang dieffenbachia, misalnya, yang sama-sama anggota famili Araceae, aglaonema jauh lebih unggul. Getah dieffenbachia gatal dan anakannya tak sebanyak aglaonema. Populasi anakan jelas menentukan harga jual. Selain itu dieffenbachia bukan asli Indonesia, tetapi imigran asal Amerika selatan. Padahal untuk persilangan, dibutuhkan indukan dalam jumlah banyak. Karena dieffenbachia dari negeri seberang maka relatif sulit untuk memperolehnya. dalam jumlah masal.

Pada penghujung 1982 mulailah Gregori menyilangkan Aglaonema rotundum dan Aglaonema commutatum. Masing-masing sebagai induk jantan dan betina. Inilah pengalaman pertamanya dalam menyilang aglaonema. Greg sebelumnya lebih intens menjadi penghulu caladium dan alocasia yang masih sekerabat dengan aglaonema. Mereka bertiga sama-sama anggota famili talas-talasan alias Araceae. Hasil silangan antara Aglaonema rotundum dan Aglaonema commutatum, diberi nama precusor. Sosoknya menarik, sayang masih warna hijau. Karena itulah Greg kemudian menyialang balik dengan 2 induk berbeda. Pertama, kembali dijodohkan dengan sang ayah, Aglaonema rotundum dan menghasilkan tanaman berdaun merah menyala. Dialah pride of sumatera yang langsung mencuat dan menjadi ikon aglaonema lain sampai sekarang.

Lalu, Greg juga mendaulat Aglaonema brevispathum untuk menjadi induk jantan. Persilangan ini menghasilkan donna carmen yang tak kalah sohor. Jadi, boleh dibilang antara pride of sumatera dan dona carmen masih sepupuan. Dona carmen lalu dititipkan pada nurseri Robby & Kerst di Bogor pada 1988.

Disarikan dari berbagai sumber